lagu sorak sorak bergembira menceritakan

Ya kita diminta untuk bersorak-sorai, karena kita sedang bergembira,… dan kegembiraan dapat tergambar dari raut wajah, dan bahasa tubuh yang ceria (chreerful). Kita seyogyanya pantas bergembira, berbahagia, mensyukuri nikmat kemerdekaan…. jika tidak rasanya sangat Ironi dengan lagu di atas.

Lalu apa sebenarnya yang sedang menimpa negeri ini, tampak lukisan buram yang tak tertampak jelas, ada oret-oretan tangan jahil yang mencoba menghabus rona kebahagiaan, lalu bagaimana lukisan wajah bangsa ini dapat dirubah dengan indahnya lukisan ala Monalisa???.

Oke kita tidak sedang membicarakan kehebatan para Penjajah (Kolonial) pada jamannya. Mari kita refleksikan keberadaan kita, karya kita, eksistensi kita, ikhtiar kita untuk bangsa dan negeri ini.

Yang pertama yang harus kita jawab adalah bagaimana kegembiraan (lagu diatas) dapat di implementasikan dalam wujud nyata? Bagaimana Kegembiraan yang diharapkan oleh Bapak.C.Simanjuntak itu dapat menuai kebahagiaan-kebahagiaan berikutnya. Rasanya kita sepakat kegembiraan itu bukan untuk poya-poya, bukan untuk berpesta pora, dan bukan untuk sekenanya mengelola negara, sehingga negara ini menjadi negara berpredikat termiskin di dunia.

Hal yang penulis pahami tentang Kegembiraan adalah bagaimana sesungguhnya konsep gembira itu sejalan dengan bahagia, terutama kegembiraan dalam hal mensyukuri dan mengisi “Kemerdekaan” ini.

Jika benar lagu itu telah merasuk kedalam seluruh tubuh kita, maka kita akan gembira menjalankan profesi kita, melaksanakan kewajiban kita dan memenuhi hak-haknya saudara-saudara kita.

Kegembiraan dalam lagu itu tidak tampak lagi,,, karena sekarang pun anak-anak tidak terdengar lagi menyanyikan lagu tersebut…..

Kegembiraan-kegembiraan yang diharapkan memberi inspirasi dan memotivasi kebaikan, menjadi hambar dan hanya sekedar …. berdesir seperti sepoy-sepoy angin berhembus halus.

Jikalah sang Pencipta menginginkan kita “Gembira/Bahagia” maka jadilah kegembiraan itu sebagai penyemangat dalam menjalani Hak manusia sebagai “Khalifah”.

Artikel Terkait:   aspek kependudukan yang menghambat pembangunan wilayah papua adalah